Foto: DetikCom

Petani Akui Harga Jual Cabai Ditentukan Pengepul

Magetan – Meski berada di kawasan sentra prosuksi cabai merah keriting, tidak menjamin para petaninya mendapatkan harga jual yang baik. Bahkan, kebanyakan harga jual cabai ditentuin oleh para pengepul.

Hal tersebut diungkapkan Ketua Gabungan Kelompok Tani Bibit Mustofa di Kecamatan Parang, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, Sabtu (11/2/2017).

“Jadi kita jual langsung ke pengepul, mereka yang nentukan harga, harganya juga tidak tentu, kalau 5 hari yang lalu Rp 39.000, turun ke Rp 28.000, kemarin Rp 20.000,” kata dia.

Bibit mengatakan petani cabai merah keriting di Kecamatan Parang, Kabupaten Magetan, Jawa Timur mengaku sudah mendapat untung jika menjual hasil produksinya sebesar Rp 20.000 per kg.

“Sebetulnya harga standar, petani sudah untung Rp 20.000 per kg,” kata dia.

Bibit menuturkan, dari 200 hektar, luas tanam cabai merah keriting di Kecamatan Parang yang saat ini bisa digunakan 152 hektar. Namun, saat ini para petani di Kecamatan Parang belum memanfaatkan lahan tersebut dengan optimal.

“Kalau sekarang 65 hektar ditanami cabai merah keriting, 4 hektar untuk cabai rawit merah,” jelasnya.

Menurut Bibit, belum dimaksimalkannya luas tanam cabai dikarenakan daerahnnya yang sulit mendapatkan air. Dia juga meminta kepada pemerintah untuk dibangun infrastruktur air, seperti pompa air.

“Jadi sekarang ini kita tanam satu kali setahun, meskipun panen bisa sampai 12 kali,” ungkapnya.

Pada kesempatan yang sama, Kasubdit Aneka Cabai dan Sayuran Buah Direkturnya Jenderal Hortikultura, Agung Sunusi mengatakan, tidak bisanya para petani menentukan harga jual dikarenakan sudah terikat kerjasama dengan para pengepul.

“Dia mau tidak mau memang harus jual ke pengepul,” jelasnya.

Tidak hanya itu, sambung Agung, penentuan harga jual cabai oleh pengepul juga dikarenakan para petani sebelumnya mendapatkan modal pinjaman dari para pengepul.

“Sehingga sudah terikat, dia harus jual kepada pengepul, dan harganya ditentukan oleh pengepul,” tambahnya.

Upaya yang dilakukan pemerintah saat ini adalah dengan mengajak para kelompok tani menjadi mitra pemerintah. Usai menjadi mitra maka hasil produksi petani dibeli langsung oleh pemerintah dengan harga yang lebih baik.

Biasanya, kata Dirjen Hortikultura Spudnik Sujono, jika sudah menjadi mitra, produk kelompok tani bisa dijual ke pemerintah untuk operasi pasar ketika harga tengah tinggi.

“Jadi nanti produksinya akan membantu kebutuhan di Jakarta, untuk operasi pasar, tapi setelah jadi mitra jangan dijual ke tengkulak lagi,” tegas Spudnik.

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

BSG Umumkan Debitur Menunggak,TAC Sebut Bisa Berdampak Negatif

    Manado,MS – Pengumuman nama-nama yang di duga menunggak kredit oleh Bank Sulutgo (BSG), ...